• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

HIDUP SEJAHTERA DI KHATULISTIWA

Sambil mendengar lagu dari salah satu legenda musik Indonesia alm. Chrisye yang berjudul “Zamrud Khatulistiwa” saya membayangkan tentang Indonesia yang indah dan makmur. Lagu ini sangat baik dalam menggambarkan bagaimana indahnya hidup di Indonesia dan bagaimana kita harus bersyukur kepada Tuhan atas anugrah ini. Namun seperti semua hal yang yang ada di dunia ini dimana selalu terdapat dua sisi kenyataan yang tidak dapat dipisahkan. Kenyataan bahwa Indonesia yang indah dan subur datang juga bersama dengan deretan gunung berapi yang aktif juga dan 4 lempeng tektonik yang menjadikan Indonesia tempat yang rentan terhadap bencana alam yang dapat terjadi kapan saja. Keberagam juga datang bersama dengan bagaimana sulitnya bangsa ini di persatukan. Hal ini bukanlah ironi tapi lebih kepada tanggung jawab yang harus di tanggung oleh sebuah bangsa yang besar yaitu Indonesia. Tidak terbayang kekuatan bangsa ini jika bersatu dan menggunakan potensi bangsa ini, mungkin itu yang sudah dibayangkan oleh seorang visioner  yaitu Soekarno sewaktu memikirkan masa depan bangsa ini sebelum kemerdekaan negara Indonesia.

 

Jika kita bersama-sama melihat kondisi Indonesia saat ini dimana kita dengan sangat mudah di pecah belah oleh isu perbedaan dan keragaman yang justru adalah potensi besar bangsa ini sangatlah menyedihkan bagaimana kita lebih percaya terhadap sesuatu yang membecah belah daripada  sesuatu yang mempersatukan kita, seperti banyak kasus yang kita lihat bersama belakangan ini,  mungkin pembukaan Asian Games kemarin bisa menjadi salah satu cerminan visual bagaimana jadinya jika bangsa ini bersatu. Hal lain yang belakangan ini terjadi di Indonesia adalah bencana alam gempa bumi yang menghantam saudara-saudara kita di Lombok dan Palu. Mata dunia menyorot bagaimana efek dari bencana alam ini dari jumlah korba jiwa yang tidak sedikit, dan juga banyak orang yang kehilangan tempat tinggal.  Hal yang paling menyedihkan dan menjadi sorotan adalah bagaimana  dalam kondisi terjepit banyak orang yang akhirnya melakukan penjarahan, kejadian itu tidak dapat dibenarkan tetapi ada kondisi dan hal lain diluar pemahaman kita sebagai penonton juga terjadi pada saat itu. Kita sebagai pihak-pihak yang tidak ada di tempat kejadian sangatlah tidak tepat jika mengeluarkan pernyataan apapun tentang kejadian penjarahan tersebut. Di era modern saat ini sudah tentu hal ini tidak luput dari sorotan kamera smartphone dan akhirnya tersebar kemana-mana sehingga Indonesia terlihat menjadi bangsa yang liar dan tidak berada, belum lagi secara politis hal ini ikut di jadikan bahan perbincangan yang justru kita lupa apa yang sebenarnya harus kita lakukan saat ini. Membagikan video-video tersebut bagi saya sama seperti dengan membagikan foto-foto kengerian kejadian terorisme yang hanya menyebarkan ketakutan dan kengerian dan persepsi yang salah tentang sebuah kejadian sehingga akhirnya masalah yang sebenarnya menjadi tidak terselesaikan. 

 

Di sisi lain tidak semua hal yang di sebar di sosial media saat ini tidak tepat ataupun salah, ada juga beberapa teman – teman dari lingkungan  pelaku budaya yang menggunakan sosial media untuk menyebarkan himbauan untuk membantu teman-teman di Lombok dan Palu. Beberapa seniman dari Polandia yang pernah melakukan kunjungan ke Yayasan Pasir Putih di Lombok mereka melakukan penggalangan dana untuk membantu teman-teman di Lombok melalui Yayasan Pasir Putih, kami menggunakan media Facebook untuk koordinasi penggalangan dana. Teman kami Lifepatch di Jogja mencoba menggalang bantuan berupa power bank bertenaga matahari untuk teman-teman di Palu. Salah satu seniman Fluxcup yang banyak kita kenal karya-karyanya di sosial media juga kemarin menjual salah satu merchandisenya untuk membantu teman-teman di Palu. Ini hanyalah beberapa contoh dari apa yang sudah dilakukan teman-teman kita di pulau lain. Bagaimana mereka memilih untuk menggunakan sosial media untuk menyatakan sikap mereka dengan cara  yang cerdas dan efektif tanpa menyingung masalah-masalah sensitif yang kita tidak ketahui , hal seperti ini perlu sama-sama kita contoh dan dukung bersama. Ini adalah salah satu kontribusi nyata dari pelaku kebudayaan dalam memberikan bantuan dan juga sekaligus mengurangi tensi politis. 

 

Kembali tentang bangsa Indonesia jika kita coba sadari bersama prilaku saling membantu dan silaturahmi adalah hal kuat yang berakar di setiap masyarakat Indonesia yang berawal dari bagaimana suku-suku bangsa yang ada di Indonesia bertahan hidup dengan cara belajar dari alam dan menghargai pentingnya sebuah keseimbangan dalam hidup. Seperti salah satu penggalan dalam lirik pembuka lagu Zamrud Khatulistiwa “Aku bahagia hidup sejahtera di khatulistiwa” yang mencerminkan sebuah bangsa yang besar, beradab, dan juga bahagia. Mungkin pada saat ini bahagia dapat diartikan sebagai bagaimana kita sangat beruntung hidup di daerah yang tidak terkena bencana tetapi juga di tempat lain ada saudara kita sebangsa dan setanah air yang mengalami kesulitan karena bencana alam yang terjadi.  Tidak ada salahnya jika kita lebih baik ikut membantu menyumbang atau membagikan hal yang lebih berhubungan dengan bantuan kepada saudara-saudara kita yang kesusahan, daripada menyebarkan kengerian. Kehidupan bahagia yang kita alami sekarang seperti rumah yang layak, kesempatan berkeja, liburan, jalan tol yang kita pakai setiap hari, listrik yang di pakai, air yang di minum didapat dari alam Indonesia kaya dan indah tapi juga memiliki energi  besar yang tidak terkendalikan yang saat ini sedang menghantam saudara kita di Palu dan beberapa waktu yang lalu di Lombok. Bahagia dan indahnya Indonesia datang juga dengan sebuah tanggung jawab yang besar sebagai bangsa yang besar. Terima kasih Tuhan untuk Indonesia yang indah, kaya, dan beragam!.

 

Vincent Rumahloine