• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

“it is OK to be not OK” –sanggarsenirupakontemporer-

 

Arti metamorfosis menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah perubahan bentuk atau susunan; peralihan bentuk. Contoh yang sering dipakai di kehidupan sehari – hari untuk menggambarkan metamorfosis adalah perubahan ulat menjadi kupu-kupu. Proses perubahan ini dalam masyarakat umum sering dianalogikan sebagai perubahan dari sesuatu yang kurang baik menjadi lebih baik, dimana ulat dianalogikan sebagai hewan hama sehingga dianggap kurang baik dan kupu-kupu yang dianalogikan sebagai hewan yang indah. Proses metamorfosis ini sendiri  seperti kita ketahui terjadi di dalam kempompong dimana ulat mengisolasi dirinya di dalam kantung sehingga proses perubahan itu dapat terjadi. Jika kita bicara tentang hubungannya dengan kita sebagai manusia, kita dapat melihat bahwa manusia pada umumnya sedang dalam proses menjadi lebih baik dari hari ke hari. Proses menjadi lebih baik ini ditempuh oleh manusia melalui agama, pendidikan, dan sebagainya.  Pameran ini mencoba menampilkan proses inkubasi dari sekumpulan anak muda yang mencoba memahami diri mereka sendiri dan permasalahnya sehingga dapat menjadi manusia yang paham terhadap dirinya sendiri dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik. 

 

Proses inkubasi dalam merupakan salah satu tahap penting dalam proses metamorfosis. Proses ini adalah proses diantara, dimana ulat sudah tidak menjadi ulat tetapi menjadi kempompong tapi juga belum menjadi kupu-kupu. Proses ini menjadi penting karena tidak berbicara hasil akhir, jika kita lihat bagaimana manusia pada umumnya selalu ingin menjadi lebih baik tetapi seakan lupa tentang prosesnya. Dalam kurun waktu kurang lebih 6 bulan para perserta pameran mencoba untuk memasuki proses inkubasi dimana mereka mencoba menemukan permasalahan dalam dirinya dan mengakui bahwa permasalahan itu ada tanpa harus tergesa-gesa untuk menyelesaikan masalah tersebut melalui proses penciptaan karya seni. Para peserta pameran berkumpul dan menciptakan ruang aman dimana mereka dapat membicarakan hal-hal yang mereka pikirkan tanpa ada batasan. Ruang aman ini adalah kempompong yang coba dibangun untuk melindungi isi dari kepompong itu sendiri yang sedang berproses.  

 

Mengakui permasalahan menjadi tahap penting dalam proses perubahan, dan pameran ini mencoba menunjukan hasil penemuan masing-masing perserta pameran melalui karya seni rupa kontemporer.  Permasalahan yang dicoba diangkat oleh para peserta pameran berkisar pada permasalah personal anak muda saat ini yang banyak di pengaruhi oleh tekanan sosial di kehidupan nyata ataupun di kehidupan virtual seperti sosial media. Banyak permasalahan yang mereka angkat mungkin akan menjadi bahan olokan jika ini di tampilkan secara gamblang, karena tidak biasa ataupun tidak terlihat cool menurut standar lingkungan saat ini.  Hal ini menyebabkan satu orang dapat menggunakan avatar yang berlapis-lapis untuk memenuhi tuntutan standar di dunia nyata ataupun di sosial media, sehingga batas antara  dunia nyata dan virtual menjadi kabur, dan tercampur aduk. 

Permasalahan ini menjadi sangat penting untuk dibahas karena pada akhirnya tekanan itu terpendam di dalam setiap orang sehingga membuat orang bergerak ke arah yang sama tanpa berani untuk mencoba hal yang baru atau berbeda. Banyak permasalahan ini yang sebenarnya terpendam dan menghambat ekspresi dari setiap individu dengan cara bersembunyi di balik avatar. Metamorfosis adalah ruang ekspresi dari para peserta pameran untuk setidaknya mencoba sesuatu yang berbeda dalam hidup mereka dan memunculkannya di dunia nyata.

 

Apa yang kalian lihat dalam pameran Metamorfosis ini adalah proses pemahaman personal para perserta pameran melalui proses berkarya seni. Pameran ini ingin menunjukan bahwa proses berkarya seni dapat digunakan sebagai salah satu metode terapi bagi anak-anak muda pada saat ini untuk permasalahan mereka tanpa harus menjadi seniman. Pameran  sendiri adalah sebuah pencapaian dan metode untuk menampilkan persoalan kontemporer tidak secara gamblang tetapi lebih menggunakan estitaka dalam teknik representasi kepada publik secara umum. Saya harap melalui pameran ini kita dapat bersama-sama mengapresiasi karya – karya seni para perserta pameran dan juga menemukan bahwa sebenarnya “it is ok to be not ok”.

Vincent Rumahloine