• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

MEMBACA KOTA BANDUNG MELALUI RABBIT TOWN

Bandung adalah kota yang terkenal dengan kreativitasnya sejak dulu. Banyak hal yang berkaitan dengan kreativitas lahir di Bandung seperti; fashion, musik dan juga seni rupa. Talenta kreatif di Bandung lahir karena adanya institusi-institusi akademis ataupun non-akademis di bidang seni. Belakangan ini, Bandung cukup mendapatkan perhatian dunia berhubungan dengan  dinyatakannya Bandung sebagai kota kreatif dunia oleh UNESCO. Masuknya Bandung sebagai salah satu kota kreatif ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan Walikota Bandung Ridwan Kamil yang juga seorang arsitek. Pemerintah kota Bandung dalam tempo singkat menyulap  wajah kota Bandung  terlihat lebih kreatif  dan lebih indah dengan membangun taman-taman tematik dan festival-festival yang di kemas dengan indah dan menarik . Perubahan yang dilakukan pemerintah kota ini ditujukan kepada warga kota Bandung dan juga para wisatawan yang meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Ruang-ruang publik yang di tata dengan rapi dengan menggunakan beberapa ornamen-ornamen di peruntukan agar warga kota Bandung lebih banyak melakukan kegiatan di ruang publik (piknik) dan juga melakukan swafoto (selfie). Semua ini diharapkan dapat mencerminkan masyarakat kota Bandung yang lebih bahagia.

 

Konsep keindahan yang diperkenalkan kepada masyarakat kota Bandung jika dilihat dari sisi orginalitasnya banyak sekali yang terlihat meniru dari kota lain di dunia. Seperti peletakan tulisan LOVE di taman balai kota Bandung yang merupakan karya dari Robert Indiana, Instalasi Payung di Agueda, Portugal yang di tiru pada saat peringatan Konferensi Asia Afrika silam di kota Bandung, Patung-patung superhero di taman superhero dan masih banyak lagi jika kita coba runut satu persatu. Hal ini pun tidak hanya terjadi di kota Bandung tetapi juga terjadi di kota-kota lain di Indonesia maupun di negara-negara lain. 

 

Perkenalan konsep keindahan kepada masyarakat dalam tempo singkat seperti ini ternyata tidak hanya menimbulkan kebahagian yang merupakan niatan dari pemerintah kota Bandung tetapi juga problematika lain di sisi lain. Salah satunya adalah kesadaran tentang menghargai karya seni, terutama mengenai originalitas sebuah karya. Tidak ada penjelasan dan pembahasan tentang sebuah karya seni. Sebuah karya dijadikan hanya sebatas latarbelakang foto selfie (objek)yang merupakan hal-hal biasa terjadi saat ini. Apa yang di lakukan kota Bandung tidak dapat dibendung karena dipercaya berhasil di negara lain dan juga menghasilkan lapangan pekerjaan bagi pekerja-pekerja kreatif di kota Bandung. Di lain pihak sisi pariwisata juga di untungkan dengan kebijakan pemerintah dalam hal ini. Para pemodal melihat hal ini menjadi salah satu peluang bisnis, bercermin pada pencapaian dari apa yang sudah di bangun di kota Bandung. Dalam hal ini kota Bandung adalah kota  kreatif  yang minim kritik terutama dalam ruang-ruang diskusi yang di gagas oleh pelaku seni dan desain (pelaku kreatif kota bandung). Hal ini membuat hilangnya batas-batas dalam masalah etik penciptaan karya pada para pelaku seni sendiri, apalagi khalayak umum. 

 

Seperti yang kita ketahui beberapa minggu belakangan ini kota Bandung disemarakan oleh berita yang menjadi viral di dalam dan luar negri mengenai kasus plagiarisme yang dilakukan oleh salah satu tempat wisata di Bandung yaitu Rabbit Townterhadap karya dari Chris Burden yang berjudul Urban Light Sculpture, Yayoi Kusama yang berjudul The Obliteration Room, dan sejumlah karya di Museum of Ice Cream. Rabbit townadalah sebuah daerah tujuan wisata selfiedi kota Bandung yang dibuka pada bulan Januari 2018. Jelas dalam hal ini pertimbangan pemilik wahanaRabbit Townadalah tentang jumlah pengunjung yang ingin melakukan selfie (tujuan pariwisata) karena seperti kita lihat karya-karya tersebut sangatlah instragamableyang terinspirasi dari kejadian di kota Bandung beberapa tahun belakangan ini. 

 

Perlu diketahui di Bandung apa yang dilakukan oleh Rabbit Town bukanlah yang pertama Farmhousejuga sudah memulai wahana kampung hobbit jauh sebelum apa yang dilakukan Rabbit Town. Jika kita bahas lebih jauh dalam hal ini bukan hanya permasalahan originalitas tetapi permasalan bisnis. Tetapi saya ingin membatasi lingkup permalahan kepada pertanyaan-pertanyaan seperti; masalah etik penciptaan karya dimanakah batasannya? Dimanakah posisi desainer dalam proses penciptaan karya pesanan? Mengapa baru saat ini terjadi kritik besar-besaran padahal praktek ini sudah terjadi sejak lama? Apakah sikap yang harus dilakukan para desainer atau seniman dalam merespon masalah ini?

 

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bisa didiskusikan di dalam ruang-ruang diskusi sehingga kita dapat melihat sebuah permasalahan lewat lingkup yang lebih lebar dan lebih bijaksana. Apa yang dilakukan saat ini di media sosial sudah benar tetapi dilakukan di tempat yang salah, seperti yang kita ketahui keterbatasan sosial media dalam menciptakan dialog yang membangun. Efek yang terjadi saat ini adalah hal-hal yang akhirnya menyalahkan masyarakat secara umum tanpa mencoba memberikan solusi dan pemahaman lebih lanjut kepada masyarakat. Apa yang terjadi dengan Rabbit Townbukanlah sesuatu yang terjadi tiba-tiba tetapi sebuah kejadian yang sudah dimulai sejak lama. Sebagai para pelaku kreatif kita juga memiliki tanggung jawab untuk mengkaji kejadian ini dari sudut pandang pelaku kreatif di kota Bandung sehingga perubahan dapat dimulai sedikit demi sedikit. Marilah kita bersama secara bijak membaca kota Bandung melalui Rabbit Town.

 

Vincent Rumahloine