• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

“SEBAT DULU, DUDUK DULU, BEBASIN……. ”

 

"Relax, Let go of yourself, Throw away your expectations, stripped off your values, and embrace the random possibilities that we might encounter on this project!" -vincentrumahloine-

 

Studi selat sunda (SSS) adalah salah satu acara yang tidak teroganisir (unorganized event)di awal tahun 2017, dimana dengan sistem open callyang marak mungkin kita lihat di berbagai event seni rupa di dalam dan luar negeri. Open calldalam SSS diartikan dengan sangat gampangnya yaitu “Siapa aja bisa ngikut!”, tinggal datang ke tempat yang di tentukan maka otomatis kita jadi peserta. Sungguh mudah dan terkesan santai, bebas dan tidak ada aturan dan memang itu yang ingin dicapai oleh para pencetus dari acara ini. Konsep dari SSS sendiri adalah dimana para peserta akan melakukan perjalanan selama 24 jam melintasi Selat Sunda, teknisnya para peserta akan menaiki kapal ferry sebanyak kurang lebih 6 kali dan selama di atas kapal setiap peserta dibebaskan untuk melakukan bentuk performatif apapun di atas kapal ferry. 

 

Di tengah kebiasaan kita di dunia seni dimana sebuah acara itu harus melalui beberapa tahapan protokoler seperti rapat, kurasi, dan pembuatan proposal. SSS menawarkan hal yang segar dan berbeda untuk sebuah acara berkesenian yang butuh usaha yang cukup besar dari para pesertanya. Acara ini mengingatkan bagaimana kita sering bicara tentang serunya melakukan sesuatu yang dadakan dan tidak terencana seperti bagaimana seru dan tak terlupakannya perjalanan tiba-tiba kita bersama teman-teman dekat ke pantai yang jaraknya cukup jauh dan biasanya butuh persiapan jadwal berbulan-bulan untuk merealisasikan niat tersebut. 

 

SSS mengingatkan bagaimana sebuah metode alternatif dalam berkarya yang berasal dari bagaimana kita bersikap sehari-hari sebagai orang Indonesia. Bagaimana kita banyak sekali menghasilkan ide-ide unik melalui kebiasaan untuk nongkrong, sebat dulu,  dan budaya lain yang mungkin dinilai tidak ada arahnya dan membuang-buang waktu. SSS menghadirkan unsur kebiasaan tersebut kedalam metode penciptaan karya seni peformatif  yang terlihat sangat santai dan tanpa beban. 

 

Seorang seniman kadang merasa terbeban untuk membuat karya tetapi kadang tidak menikmati proses penciptaan karya tersebut bahkan pada detil proses penciptaan karya. SSS menghadirkan metode ini dengan mudah karena tidak ada deadline dan paksaan sehingga akan sangat memudahkan untuk para seniman untuk berpikir, berimajinasi dan menciptakan karya. Ide tempat berlangsungnya SSS yang bertempat di atas kapal ferry menjadikan interaksi diantara para peserta merupakan bagian penting dalam proses penciptaan karya dimana setiap peserta merasa di dalam sebuah safe space. Safe space dapat dilihat dari bagaimana cara rundowndan pembagian peran ditentukan dalam acara SSS ini yang dilakukan di tempat dengan sangat mudah dan cair.

 

Jika kita datang ke SSS dengan sebuah ekspektasi dan nilai-nilai apapun itu, dapat dipastikan akan banyak sekali benturan dan gesekan yang akan kita alami. Kemungkinan gesekan dan benturan ini pasti akan terjadi dan  hal ini dapat menjadi sebuah kekuatan sekaligus kelemahan bagi SSS sebagai sebuah acara dan juga pesertanya, karena tidak semua orang siap dengan kondisi yang akan dihadapi apalagi dengan usaha yang cukup besar untuk sampai ke tempat pertemuan awal. Setiap peserta akhirnya harus benar-benar sadar akan adanya sebuah kemungkinan acak yang akan terjadi, dan juga siap untuk segala hal menarik yang akan terjadi. SSS mengajarkan bagaimana para peserta dapat melihat sebuat acara akan terjadi tetapi mengerjakannya dengan cara “SEBAT DULU, DUDUK DULU, BEBASIN….” dan pada akhirnya tetap menghasilkan sebuah karya performatif. 

 

 

Vincent Rumahloine  

STUDI SELAT SUNDA